Hanya penyesalan yang kini terurai dari raut wajah Radit. Semua sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Kepergian Airin untuk selamanya tak bisa dipungkiri lagi. Dalam hatiku hanya bergeming, “Sudah terlambat Radit !”. Penyesalan Radit begitu sia-sia. Bagai jalan tak berujung. Suasana semakin lama semakin hampa, hanya isak tangis Radit yang meriuh di pemakaman Airin. Dipegangnya batu nisan Airin dengan kuat sambil dia berkata, “Maafkan aku Airin !”. Tangisan Radit tak dapat dilihat oleh siapapun berkat air hujan yang terus membasahi tubuh kami.
Kematian Airin yang aku pandang begitu mulia, tidak akan pernah aku lupakan. Aku mengenal cewek masculine ini dari SMP. Kami berteman baik hingga dia tiada. Airin Anggrayani Putri nama yang sangat berbeda dengan kepribadiannya. Dia adalah cewek yang tegar yang selalu melindungiku. Kematian sang ayah yang membuatnya berubah menjadi sosok yang kuat bagai anak laki-laki. Kerumitan kisah hidup Airin disebabkan cinta yang akhirnya merenggut nyawanya.
“Airin !”, panggilku waktu itu di koridor sekolah
“Hai, nan !”, sapanya
“Kamu hari ini ke bengkel ?”, tanyaku
“Tentu ! Kalau tidak ke bengkel, aku makan dengan apa ? Masa aku makan kunci inggris ? Gak lucu kan ?”, candanya
“Haha ! Bener-bener ! Ngomong-ngomong aku boleh mampir gak ?”
“Boleh aja, kalau kamu gak jijik sama keadaan bengkel yang kotor ?”
“Gak masalah ! Lagian aku males banget di rumah !”
Setelah kami ngobrol, kami langsung memutuskan untuk pergi ke bengkel Airin. Bengkel Airin dekat dengan SMA kami. Bengkel Airin bagaikan rumah kedua. Jika tidak ada di rumah, pasti dia ada di bengkel peninggalan ayahnya.
“Kakakmu gak jaga bengkel ?”, tanyaku
“Hari ini jadwal kuliahnya padat banget, jadi gak bisa jaga bengkel ! Kamu kesini cuma cari kak Randy ?”, tanya Airin sambil mencibik
“Gak kok !”, jawabku sambil mengulum senyum
Beberapa saat suasana sangat hening. Tiba-tiba ada anak laki-laki yang mendorong sepeda motornya masuk ke bengkel Airin.
“Airin !”, teriakku “Ada pelanggan nich!’
“Iya, bentar !”
“Maaf, montirnya masih ganti baju !”, kataku sopan pada anak laki-laki tadi
“Gak apa-apa !”, kata anak itu sambil membuka helmnya
“Radit !”, teriakku saat tahu siapa cowok di balik helm merah itu
“Oh, Nanda ? Ngapain kamu di bengkel ? Kok, tadi gak ikut rapat OSIS ?!”, tanya Radit panjang lebar
“Iya, soalnya itu aku . . .”
“Siapa, nan ?”, tanya Airin menyelamatkanku
“Ini Radit !”, kataku
“Radit siapa ?”, tanya Airin balik sambil menghampiri kami
“Aku Radit anak XI IA 1 !”, kenal Radit
“Uhm, temen OSIS kamu nan ?”, tanya Airin padaku
“He-em”
“Motor kamu emangnya kenapa ?”, tanya Airin sambil menghampiri motor Radit
“Gak, tahu nich ! Tiba-tiba mogok !”, jawab Radit
Airin kemudian mengambil peralatannya. Aku dan Radit hanya duduk sambil memandangi, betapa cekatannya sahabatku memperbaiki motor Radit. Dengan sedikit mengutak-atik, Airin menemukan penyebabnya.
“Busi kamu udah gag layak nich !”, kata Airin pada Radit
“Jadi businya ya ?”, tanya Radit tidak percaya
Airin kemudian mengganti businya dan beberapa menit kemudian selesai.
“Berapa ?”,tanya Radit dengan sedikit malu
“Oh, gak usah dit!”, tolak Airin
“Aduh, aku gak enak nich!”
“Gak apa-apa ! Kamu kan temen Nanda jadi buat kali ini aku gratisin dech !”
“Tapi, lain kali gak gratis lho !”, kataku pada Radit
“Bener nich gak apa-apa ?”, kata Radit tidak enak
“Bener !”,kata Airin bersungguh-sungguh
Itulah awal mula Airin mengenal Radit. Hingga lambat laun kami bertiga semakin akrab. Radit sering mampir ke bengkel Airin untuk membantunya sekaligus mencuri ilmu dari Airin agar dia bisa memperbaiki motor tanpa bantuan Airin.
Aku tidak menyadari bahwa kebersamaan kami menumbuhkan benih cinta di hati Airin terhadap Radit. Aku tahu dari tiap tatapan Airin kepada Radit yang selalu menyorotkan ketulusan yang hangat. Tapi, yang selalu aku sadari bahwa Airin akan memendamnya.
“Dit, kok gak pernah mampir ke bengkel lagi ?”, tanyaku pada Radit setelah rapat OSIS
“Iya !’, jawab Radit malas
“Ada apa ?”, tanyaku bingung atas absennya Radit mengunjungi bengkel Airin
“Cewekku sering ngambek kalau aku terus-terusan mampir di bengkel”, jawab Radit enteng
“Sejak kapan kamu punya cewek ?”, desakku
“Maaf, aku gak pernah cerita ! Masih dua minggu kok, aku sama dia !”, katanya cuek “Emang kenapa?”,tanyanya
“Airin, cari-cari kamu terus ! Makanya dia nyuruh aku, kalau ketemu kamu disuruh tanya hal yang tadi !”
“Kenapa Airin cari-cari aku segala ? Lagi pula, aku sudah bisa memperbaiki motorku sendiri kok ! Jadi, gak perlu bantuannya lagi !”, jawabnya lugu
“Jadi, kamu sering mampir ke bengkel cuma untuk tahu gimana caranya memperbaiki motor kamu ?”, tanyaku ketus
“Pastinya ! Apalagi yang aku cari selain hal itu ?!”
“Kamu jahat Radit ! Kecewa aku punya teman seperti kamu !”, jawab Airin dari arah belakang kami
Saat itu, aku benar-benar tidak menyadari bahwa Airin mendengar pembicaraan kami. Aku menatap Airin bingung. Sedangkan Radit, hanya menatap tidak percaya. Sesaat setelah Airin berkata seperti itu, dia meninggalkan kami.
“Airin !”, panggilku
Aku kemudian berlari menerobos hujan yang sedang menderu. Sepertinya, hujan benar-benar mewarnai suasana hati Airin yang kelam. Aku coba untuk menelepon dan mengirim pesan, tapi Airin tidak pernah membalas. Lalu, aku coba untuk mengetik pesan ke Radit.
Dit, aku mohon kamu sms Airin ! Dia tidak pernah membalas semua pesan yang aku kirim ! Aku khawatir, dit !
Kemudian Radit hanya membalas
Gak usah panik ! Gak mungkin cewek masculine kayak Airin bisa nangis cuma gara-gara masalah sepele kayak gini ?!
Benar-benar singkat namun sakit. Aku gak tahu harus ngomong apalagi ke Radit. Jahat. Iya, itulah Radit !. Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Airin dan dia bilang baik-baik saja dengan nada simpelnya. Setelah kejadian itu berlalu aku dan Airin tidak pernah bertemu dengan Radit lagi. Namun, hingga saat itu juga Airin tetap tidak pernah mengakui bahwa dia cinta Radit. Aku juga tidak pernah mencoba untuk bertanya. Kehidupan kami kemudian berjalan normal seperti sebelum Radit mewarnai kehidupan persahabatan kami.
“Radit, kok gak pernah rapat nan ?”, tanya Tiara kepadaku
“Aku gak tahu dan gak mau tahu tentang Radit lagi !”, jawabku ketus
“Kamu kan teman baiknya ?”
“Iya, sebelum dia nyakitin teman baikku !”
“Kalian ngomongin Radit ?”, tanya Satria tiba-tiba
“Iya, Radit kemana kok gak pernah rapat ?”, tanya Tiara peduli
“Radit masuk rumah sakit ! Dia kena gagal ginjal ! Aku benar-benar prihatin liat kondisi Radit !”, kata Satria ironi
“Beneran ?”, tanyaku yang syok dengar kabar tentang Radit
“Masa aku bohong ? Gak ada untungnya !”
Aku segera berlari menemui Airin. Airin kaget sama seperti aku mendengar kabar itu dari Satria. Dan yang benar-benar aneh bahwa Airin tidak mendendam. Aku tahu Airin telah banyak berubah setelah kejadian itu. Dia bukan cewek masculine yang aku kenal dulu. Dia sekarang menjadi cewek melankolis. Kami memutuskan menjenguk Radit setelah mengetahui kabar itu. Orang tua Radit benar-benar kesulitan untuk mencari pendonor ginjal. Orang tua Radit tidak dapat melakukan apa-apa. Ginjal mereka tidak cocok untuk Radit. Kemudian, Airin mengajakku untuk memeriksa ginjalnya. Awalnya, dia tidak mengakui jika dia ingin mendonorkan ginjalnya untuk Radit. Tapi, sekarang aku tahu jika salah satu ginjal Radit saat ini adalah milik Airin.
Pada awalnya setelah operasi besar itu usai keadaan membaik. Namun, kondisi Airin tidak dapat bertahan lagi. Tidak seperti keadaan Radit yang semakin membaik. Tak tertahankan, genangan air yang menggantung di kelopak mataku kini jatuh dan terus mengalir. Kerongkonganku tercekat hingga tak dapat berkata-kata lagi.
“Akankah Airin memaafkanku, nan ?”, tanya Radit memecah lamunanku
“Aku yakin Airin akan memaafkanmu, dit !”, ucapku agak terisak menahan tangisan piluku
“Dia tidak meninggalkan pesan untukku ?”, tanya Radit lagi
“Iya, dia meninggalkan sesuatu untukmu . . .”, jawabku lirih
Ku sesakkan tanganku yang basah untuk mengambil buku yang ditinggalkan Airin untuk Radit. Kami meneduh di bawah payung hitam sembari membaca tulisan lembut cewek masculine ini.
Puisi untukmu :
Cinta Radit
Sayup-sayup burung gereja . . .
Membangunkanku akannya . . .
Celotehan syahdu yang kurasa . . .
Telah tersentuh penuh makna . . .
Raditku . . .
Bagai pujangga nan syahdu . . .
Yang selalu ku tunggu . . .
Dan menggetarkan jiwaku . . .
Ku harap kau tahu . . .
Betapa tulus cintaku . . .
Begitu lembut untukmu . . .
Oh, Radtku . . .
Tiga bait puisi yang indah. Penuh makna dan harapan. Yang tak pernah Radit duga sebelumnya. Jauh di dasar hatiku yang berbisik lirih, “Selembut cinta cewek masculine, Airin . . . “
TAMAT
visit my blog and follow mee! I follow you yet!♥
BalasHapushttp://lepetitsouriree.blogspot.com.es/