Minggu, 19 Juni 2011

FATAMORGANAKU

PENDAHULUAN

Aku terbangun dari tidurku yang menurutku tidak nyenyak untuk kali ini. Aku benci kehidupanku yang sekarang. Semua ini gila dan terasa tidak nyata. Ya, ini tidak nyata!. Ini hari pertama aku menjalani kehidupan baruku yang tak lazim. Secara teknis. Ini hanya ilusiku yang jadi nyata dan semua terasa serba asing tapi tidak bagi mereka. Aku masih memeluk diriku sendiri di ruangan ini yang dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar itu. Aku harus keluar dan menghadapi semua ini sendirian. Tidak ada yang ku ketahui disini kecuali mimpi-mimpiku yang memasuki babak baru yang buruk karenanya. Aku benci misteri termasuk mimpiku yang saat ini jadi nyata. Magis. Magis yang membawaku kemari. Seakan-akan dia magnet yang ada dalam tubuhku yang dapat menarikku semaunya.




*******************************************





BAB 1
Baru & Nyata

Semua telah disiapkan. Telah tergantung dengan manis sebuah seragam wanita yang sangat elegan. Aku rasa. Aku turun dari ranjang empukku yang aku bilang tidak nyaman dan tidak cocok untuk diriku sendiri. Aku bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri di sekolah baruku. Baju itu terasa sangat menarik. Kemeja putih dengan rok yang mungkin tepat di atas lututku berwarna hitam-merah bermotif kotak-kotak yang sewarna dengan dasinya. Setelan seragam itu dilengkapi dengan jas hitam yang dilengkapi dengan atribut bordir nama sekolah dan tertera di dada sebelah kiri jas tersebut.

Memandangi seragam tersebut membuatku lupa untuk mandi. Aku bergegas dan mandi secepat mungkin yang aku bisa agar tidak terlambat pada hari pertamaku bersekolah di tempat yang terasing ini. Semua sudah siap. Dari seragam dan tatanan rambut yang aku rias sebisaku. Tapi terasa ada yang terlupa. Sebuah tas yang biasanya dipakai untuk sekolah. Mataku menatap tajam tiap ruangan untuk melihat apakah ada sebuah benda yang bisa aku pakai untuk meletakkan buku-buku yang akan aku bawa. Ternyata tepat di seberang ranjang ada meja cokelat yang di atasnya terdapat tas hitam kulit jinjing yang nampak baru ada disana. Aku menghampiri dan melihat ke dalam isi tas tersebut dan ternyata sudah lengkap isinya. Konyol. Semua ini terasa konyol. Aku keluar dari kamar dan menghadapi dunia baruku, sambil membawa tas hitam tadi aku segera turun dari tangga. Saat aku turun, beberapa pasang mata menatapku ramah kecuali satu. Pemuda yang berseragam sama denganku. Aku segera duduk di meja makan yang telah disediakan, tepatnya di depan pemuda tadi. Dia menatapku sekilas namun tatapannya seakan menghardik diriku sungguh licik dan tak termaafkan.

“Selamat pagi, sayang !,” sapa wanita yang duduk di kursi utama bagaikan pemimpin.
“Selamat pagi, Mrs.Wennedy !,” sapaku alami yang kemudian aku teringat nama wanita itu saat aku menyapanya di mimpiku.

Setelah acara menyapa yang menurutku sangat alami dan sopan tadi, aku melirik piringku yang telah tersedia sandwich dan segelas susu full cream yang sangat aku suka. Aku memakan sandwich itu dengan perlahan dan meminum susu yang telah tersedia. Kemudian aku melihat pemuda itu bangkit dari kursinya tanpa sepatah katapun. Refleks. Aku mengikutinya dan dia menghampiri mobil hitamnya yang mengkilat dan telah disediakan sebelumnya. Dia masuk di kursi pengemudi lalu aku masuk di kursi penumpang. Aku merasa heran dan tanpa diundang masuk olehnya tetapi aku langsung masuk ke dalam. Aneh dan seakan telah diatur sebelumnya

Gas diinjaknya sekencang-kencangnya dan semakin lambat kecepatan yang dia laju. Sunyi dan tak ada yang memecahnya sehingga aku merasa agak bosan di dalam mobil ini. Dia hanya diam membisu meski sesekali melirikku tapi lirikannya kepadaku sangat menghancurkan hatiku. Aku lelah dan akhirnya menyerah.

“Jadi, apa yang kau inginkan?,” tanyaku padanya.
“Apa?,” tanyanya tanpa dosa.
“Kenapa kau mendiamkanku seperti ini seakan aku mempunyai suatu kesalahan terhadapmu?,” tanyaku kembali.
“Kau tidak mengerti apa-apa!,” jawabnya sarkas.
“Justru itu! Jangan kau mendiamkan aku seperti ini!,” ucapku lekat-lekat dengan menekankan tiap kalimatnya.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat,” katanya yang halus dan sopan.

Dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Aku hanya diam membisu dan mulai merasakan genangan air yang menggantung di mataku. Dia fokus pada jalan yang kami tuju. Dia mulai memperlambat laju mobilnya ketika memasuki sebuah taman yang sepi dan agak gelap untuk pantulan sinar di pagi hari. Dia turun dari mobil dan aku mengikutinya dari belakang. Kami melewati jalan setapak yang berbentuk bukit dan kemudian kami melihat di ujung jalan setapak terdapat rumah megah yang besar dan menakutkan serta daya magis benar-benar terasa disana. Di depan rumah itu nampak pagar yang menjulang tinggi dan seakan-akan melindungi rumah tersebut. Setibanya kami sampai dipagar rumah itu, dia membukanya dengan perlahan dan seakan-akan dia pemilik rumah itu. Aku mengekor dari belakang. Kemudian dia berjalan menuju belakang rumah itu. Dia duduk di kursi taman yang tersedia disana. Kami terdiam. Aku memilih duduk di dekat monumen air mancur yang ada disana. Aku mengamati sekitar, daun-daun kering bertebaran dimana-mana, rumah terasa sepi dan kotor serta terbesit sebuah pertanyaan mengapa di atas atap rumah itu terdapat semacam pusaran yang bunyinya sangat menggemuruh sehingga membuat sekujur tubuhku terasa merinding?. Menduga mungkin pusaran itu semacam black hole  versi daerah asing ini.

“Apa yang kau inginkan?,” tanyanya memecah lamunanku.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Mengapa kau mendiamkan aku seperti ini?,” tanyaku padanya.
“Aku benci kau hadir dalam kehidupanku! Kau seakan-akan pengawal yang tak akan melepaskanku dan memborgolku kemanapun aku pergi!,” jawabnya seakan-akan dia tersiksa atas kehadiranku.
“Aku tidak pernah menginginkan berada disini! Jika kau dapat mengembalikan aku, kembalikan aku di kehidupanku yang dulu!,” kataku jujur.
“Permintaan konyol yang aku dengar,” komentarnya sinis yang benar-benar menyayat perasaanku.
Aku terdiam dan dia tersenyum licik sambil menggelengkan kepala dan menganggap permintaanku lucu.
“Kau tahu? Aku tidak mencintaimu! Saat ini hatiku telah terisi dan tiba-tiba kau muncul untuk menghancurkan semuanya!,” protesnya kepadaku.
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau ucapkan,” kataku jujur yang memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.
“Kau benar-benar lucu! Kau tercipta sebagai belahan jiwaku yang muncul tanpa aku mengharapkannya!,” serunya kepadaku yang seakan-akan jiwanya tersiksa karenaku.
“Belahan jiwa? Soulmate?’,” tanyaku lekat-lekat.
“Ya, kau adalah soulmate-ku. Kau penyempurna kekuatanku untuk mencapai level tertinggi,” jawabnya yang tiba-tiba suaranya parau dan hilang.
“Kekuatan? Level tertinggi?,” tanyaku yang memang tidak mengerti dengan jawabannya tersebut.
“Tiap-tiap dari kami kaum laki-laki mempunyai level tertinggi di dunia kami. Kami akan mencapai level tersebut jika kami menyatu dengan belahan jiwa yang telah ditakdirkan untuk kami,” jelasnya panjang lebar.
“Kekuatan apa yang akan kau miliki jika mencapai level tertinggi?,” tanyaku.
“Makhluk seperti kami mempunyai kekuatan magis layaknya sihir, namun kami tidak membutuhkan mantra-mantra untuk menimbulkan kekuatan itu. Semua itu menyatu dengan apa yang kami pikirkan,” jawabnya lebih sabar kali ini.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk menyempurnakan kekuatanmu tanpa aku membebanimu?,” tanyaku tulus.
“Apa? Kau bersungguh dengan ucapanmu? Tapi, mungkinkah kau tidak akan membicarakan hubunganku dengan pacarku kepada mom?,” tanyanya panjang lebar dengan secercah senyuman menawan yang tersungging di bibirnya tapi tetap misterius.
“Sungguh! Aku juga berharap ingin segera keluar dari dunia yang konyol ini!,” jawabku lugas namun benar-benar tulus.
“Baiklah, kita berangkat!,” ajaknya bahagia namun agak enggan.

Kami keluar dari pelataran daerah itu. Dia terlihat puas atas argumenku tadi. Aku masih tidak mengerti apa yang dipikirkannya dan bagaimana jalan pikirannya. Setelah kami masuk mobil dia langsung menancap gas dan berlalu dari daerah itu. Aku masih bingung kami akan pergi kemana. Aku hanya terdiam, sementara dia tersenyum-senyum puas atas sesuatu hal yang aku tidak ketahui pastinya bagaimana.


***************

Aku menyadari bahwa kami menuju sekolah. Aku hanya heran dan bertanya-tanya dalam hati, Apakah dia sudah gila membawa kita sekolah pada siang hari?. Dia menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya. Dia kemudian turun dan aku mencontohnya. Di depan pintu sekolah yang megah itu terdapat dua guru yang berdiri disana.

“Selamat pagi, Mr.Wennedy?,” sapa seorang guru dengan sopan namun sedikit ironi.
“Selamat pagi, Mr.White,” sapanya dengan sopan.
“Mr.Eleaz Wennedy, jam berapa anda tiba di sekolah?,” tanya Mr.White dengan sinis.
“Maaf, saya tiba pukul 08.45! Saya harus menjemputnya terlebih dahulu untuk datang ke sekolah sebab Mrs.Wennedy yang menyuruh saya,” jawabnya halus dan kidhmat.
“Baiklah, alasan yang cukup mulia!,” jawab Mr.White cukup ramah. “Ambil jadwal lalu masuk kelas segera sebab sebentar lagi ada pergantian jam!,” sarannya yang cukup baik.
“Terima kasih,” kata Eleaz.
“Terima kasih,” kataku sopan kepada Mr.White.

Aku mengikuti langkah kaki Eleaz. Lagi-lagi aku mencontohnya. Kami berhenti di depan ruangan yang di dalamnya terdapat seorang wanita muda yang sedang mencatat. Eleaz membukakan pintu untukku. Aku melihat sekeliling ruangan itu. Klasik. Tema klasik benar-benar mengikat di tempat asing ini. Nuansa cokelat tua, ukiran lembut nan rumit, barang-barang antik menghiasi ruangan ini.

Ada yang bisa aku bantu Mr.Wennedy?,” tanya salah seorang wanita berambut cokelat yang memakai kaca mata berbingkai hitam itu.
“Miss Rose, aku ingin mengambil jadwalku hari ini dan meminta jadwal serta peta sekolah untuk nona ini,” pinta Eleaz sopan.
“Miss Wennedy?,” Miss Rose bertanya padaku.
Aku bingung harus menjawab apa. Namaku Alvey Rosenberg dan bukan Alvey Wennedy !
“Ya, dia Alvey Wennedy!,” jawab Eleaz yakin.
“Baik, ini jadwal untukmu hari ini Mr.Wennedy dan ini peta sekaligus jadwal anda Miss Wennedy,” kata Miss Rose sambil menyerahkan jadwal kami sekaligus petaku.
“Terima kasih,” jawab Eleaz mendahului.
“Terima kasih,” kataku sambil tersenyum ramah pada Miss Rose.
“Good luck!,” doa Miss Rose ramah.

Semoga doa Miss Rose terkabul. Tiba-tiba bel berbunyi dan semua anak keluar kelas. Ramai dan penuh senyum.
“Aku akan mengantarmu ke kelasmu dan kita betemu sepulang sekolah okey?,” tanya Eleaz tiba-tiba.
“O … Okey!,” jawabku tergagap.
Eleaz meraih tanganku dan menggegam dengan tidak sabaran. Dia ingin cepat-cepat mengantarku ke kelas agar dia tidak kerepotan menjagaku.
“Ini kelas bahasa Inggris, bersikaplah sedikit ramah dengan orang lain!,” perintah Eleaz padaku.
“Oke . . . .,” jawabku lemah.

Aku masuk ke dalam kelas baruku. Ruangan kelas ini sangat berbeda dengan ruang kelasku yang dulu. Papan tulisnya yang berwarna putih dengan coretan spidol pada materi sebelumnya sangat singkat. Warna dasar temboknya yang berwarna biru tua pada bagian atasnya dan dilebur dengan warna garis merah-putih pada bagian bawahnya. Model bangku yang makin ke atas seperti anak tangga yang seakan-akan tiap murid tidak akan melewatkan kesempatan untuk memperhatikan guru. Aksen warna klasik masih tetap melekat pada ruangan ini. Cokelat tua masih melekat pada tiap bangkunya. Aku melangkah ke atas dan memilih untuk duduk di bangku kedua yang paling tinggi dari belakang. Tas kulit hitam aku gantungkan pada kait yang ada di tepi meja. Ruangan masih sepi dan benar-benar terang seakan-akan lampu yang ada hanya menyorotiku saja. Hal itu membuatku benar-benar merasa malu.
Beberapa menit setelah aku mengamati setiap objek yang ada di ruangan ini, tiba-tiba muncul anak laki-laki yang sangat rapi dan benar-benar berkepribadian baik. Dia memilih untuk duduk disebelahku.

“Hai !,” sapanya sopan.
“Hai, juga!,” balasku ramah.
“Bolehkah aku memperkenalkan diriku?,” tawarannya sopan.
“Tentu . . . .,” kataku lemah.
“Aku Brayn Lewis,” kenalnya lekat-lekat saat mengucapkan namanya.
“Aku Alvey Wennedy,” kenalku singkat padanya.
“Jadi, kau saudara Eleaz?,” tanyanya halus.
“Ehm . . . . Ya, aku sepupu Eleaz . . .,” jawabku lemah dan serasa suaraku tiba-tiba menghilang.
“Kau datang darimana? Maksudku, kau berasal darimana sebelumnya?,” tanyanya yang secara tiba-tiba mengganti pertanyaannya lebih halus.
“Ehm . . .,” dengungku yang bingung harus menjawab apa.
“Oke, aku mengerti! Mungkin masa lalumu tidak ingin dibahas sehingga kau pindah kemari. Mungkin?” interupsinya tiba-tiba.
“I . . . iya! Mungkin seperti itu”, kataku terburu-buru.
Aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Tapi, kesan pertamaku terhadap Brayn adalah seorang anak laki-laki yang sopan. Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah buku tulis lalu membukanya. Sungguh murid yang sangat rajin, mempersiapkan diri untuk materi yang akan diterima.
“Ku harap kau suka dengan lingkungan sekolah barumu ini !”, doanya padaku.
“Terima kasih dan kau sungguh orang baik yang pernah aku tahu di sekolah ini!”, kataku jujur.
“Ini seharusnya dilakukan semua orang dan aku sangat berterimakasih mengenai kesanmu terhadapku,” katanya terdengar tulus.

Senang rasanya dapat mengenal dia. Rambutnya yang berwarna cokelat keemasan dan warna kulitnya yang putih serta penampilannya sangat rapi, sangat cocok dan berkesan dia seorang murid cerdas jika dibanding dengan Eleaz. Menatapnya sangat tidak canggung. Dia tidak merasa risih atau terganggu. Sadar atau tidak, kelas hampir penuh dan suara anak-anak terdengar gaduh di dalam kelas.

“Selamat pagi!”, salam seorang pria yang aku rasa dia Mr.White guru bahasa Inggrisku.
“Selamat pagi!”, ucap anak-anak.
Kemudian Brayn berdiri sambil membawa secarik kertas.
“Ambil jadwalmu untuk ditandatangani Mr.White!”, perintahnya padaku.

Kemudian aku mengambil lembar jadwalku dan turun ke bawah seperti anak-anak yang lain. Brayn sungguh baik. Sepertinya aku tidak akan merasa tersiksa di sekolah asing ini jika mengenal Brayn. Di sepanjang jam bahasa Inggris, aku benar-benar berkonsenterasi. Mr.White sering mengadakan Trivia Quiz  dan aku berhasil menjawabnya. Brayn bertanya banyak mengenai materi ini padaku sebab dia merasa kesulitan. Senang rasanya bisa banyak membantu. Apalagi aku dapat membantu seseorang yang baru aku kenal dan baik kepadaku.

“Jadi, kau benar-benar paham dengan materi tadi?,” tanya Brayn seusai kelas bahasa Inggris.
“Tentu, memang ada yang salah?,” tanyaku
“Tidak, hanya saja anak-anak masih banyak yang belum mengerti mengenai materi tersebut,” jawab Brayn.
“Oh . . .,” desahku lemah
“Baiklah sampai bertemu lagi !,” katanya.
“Oke!,” balasku

Aku menuju lokerku. Berusaha mencari mana loker yang dimaksud oleh kunci yang aku pegang. Banyak pasang mata yang menatapku heran. Anak baru !. Pasti pikiran mereka seperti itu. Sedikit rasa lega menyambut perasaanku ketika aku sudah menemukan loker yang akan aku gunakan selama bersekolah di tempat konyol ini. Memasukkan kuncinya perlahan dan sedikit aku tekan dan kuputar ke arah kanan.

“Huh!,” desisku pelan

Aku melihat gadis disebelahku, gadis yang berambut pirang panjang dan kulitnya seputih gading yang sedang mengaduk-aduk isi lokernya. Tanpa sengaja aku melihat sebuah foto yang di tempel di pintu lokernya. Ya! Itu foto Eleaz dengan gadis itu. Sekitar lima foto tertempel di pintunya. Gaya yang mereka gunakan bagai model pada sesi pemotretan majalah remaja pada musim semi.

“Kau ceweknya Eleaz?,” tanyaku tanpa sadar pada gadis itu.
“Apa? Maaf, kau berkata apa?,” tanya gadis itu sambil menelengkan kepalanya.
“Kau ceweknya Eleaz?,” tanyaku sekali lagi padanya.
“Ya, bagaimana kau bisa tahu hal itu?,” tanyanya
“Foto yang ada di lokermu?,” kataku
“Oh. Ehm, ngomong-ngomong kau siapa?,” tanya gadis itu.
“Aku Alvey Wennedy,” kenalku sambil bersalaman dengan gadis itu.
“Aku Baby Hardwicke,” kenalnya
“Jadi, kau saudara Eleaz?,” tanya Baby tiba-tiba.
“Ya, aku sepupu Eleaz!,” jawabku bohong.
“Kau bisa membantuku?,” pinta Baby yang setengah memohon.
“Jika aku bisa,” jawabku
“Tanyakan pada Eleaz mengapa dia tidak pernah mengangkat telepon dariku, membalas pesan maupun e-mailku?”
“Baik, aku akan bertanya padanya,” janjiku
“Terima kasih, kau benar-benar baik,” katanya terdengar tulus dan lemah.

Mengapa Eleaz melakukan hal itu pada gadis secantik Baby? Gadis yang bersamanya?. Padahal, dia berkata bahwa dia mencintai Baby!. Sungguh malang gadis itu. Aku akan benar-benar membicarakan hal ini dengan Eleaz. Meski aku tidak ingin mencampuri kehidupannya tapi aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan Baby. Aku melirik jam yang besar di koridor ini. Masih ada waktu sepuluh menit untuk masuk kelas berikutnya dan sebaiknya aku mencari Eleaz.

2 komentar:

  1. Nah, sip...
    Tapi kalau masih setengah" susah juga ya...
    Bikin penasaran... :D

    BalasHapus
  2. Insya Allah saya posting lagi kalau saya sudah mahir :)

    BalasHapus